Home / Ekonomi / Punya Usaha Go Internasional Bukan Sekedar Mimpi Saja

Punya Usaha Go Internasional Bukan Sekedar Mimpi Saja

Punya Usaha Go Internasional Bukan Sekedar Mimpi Saja – Jaringan gerai Kopi Kisah lama mendapatkan permodalan sebesar US$8 juta atau kira-kira Rp288 miliar dari perusahaan modal ventura India, Alpha JWC Capital. Walaupun sebenarnya, usaha kopi ini belum pula dua tahun ditingkatkan sejak mulai dwi foundernya, Edward Tirtanata serta James Pranoto mengibarkan bendera usaha mereka pada Agustus 2017 waktu lalu.

Selayang pandang, usaha Kopi Kisah lama berkembang sangat cepat. Pada Oktober 2018, usaha ini cuma miliki 16 gerai kopi serta jual 175 ribu cangkir per bulan. Saat ini, Kopi Kisah lama telah mengembangkan sayap melalui 80 gerai di delapan kota. Mengagetkan, memang. Sebab, penjualannya sekarang hampir sampai satu juta cangkir kopi.

Edward Tirtanata menyampaikan usaha yang dilaluinya tidak terputus dari kesempatan. Dia mengatakan menyaksikan minimnya rantai usaha kopi pada harga dapat terjangkau di Indonesia. Tak diperkirakan, nyata-nyatanya apresiasi penduduk lumayan tinggi sampai membuat jualannya laku manis.

“Indonesia yaitu pengeskpor kopi paling besar ke empat di dunia. Tetapi, mengonsumsi per kapitanya paling rendah di lokasi, sebab tak ada jaringan usaha kopi yang besar serta dapat terjangkau,” tuliskan Edward.

Dia mengatakan mengangkat misi untuk bawa kopi berkualitas tinggi yang dibikin dengan beberapa bahan paling fresh. “Yang ada lewat cara lokal pada pembeli di Indonesia serta Asia Tenggara,” tambah ia.

Edward serta kawannya sukses membuat investor melirik ketekunannya berwiraswasta. Dia mencapai dana fresh. Namun dia tidak berhenti disana, dia bercita-cita memakai dana fresh itu untuk ekspansi usaha serta go international alias buka gerai di luar Indonesia.

Dalam gagasan bisnisnya, dia dapat buka 1.000 gerai baru di Indonesia sampai 2021 akan datang. Dia akan juga mengembangkan sayap upayanya sampai ke Asia Tenggara.

Menarik melihat kejadian Edward dengan Kopi Kenangan-nya, mengingat tidak banyak usaha kecil serta menengah (UKM) yang dapatkan suntikan modal sampai beberapa ratus miliar. Walaupun sebenarnya, banyaknya UKM di Indonesia bejibun. Berdasarkan data Kementerian Koperasi serta UKM, banyaknya usaha mikro, kecil, serta menengah (UMKM) di Indonesia sampai 59 juta per 2018.

Ini mempunyai arti, kesempatan UKM untuk menjiplak kejadian sukses Kopi Kisah lama sesungguhnya bukan mimpi di siang bolong. Apabila, aktor usaha telaten serta melihat rambu-rambu dalam menekuni usaha.

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia Ikhsan Ingratubun menyampaikan kejadian sukses Kopi Kisah lama dalam dapatkan permodalan untuk ekspansi kali saja dicontoh oleh usaha yang lain. Tetapi, jalan ketujuan kesana semestinya bukan hal yang simpel. Ihwal ekspansi internasional, pasar berubah menjadi perihal nomer wahid.

Menurut Ikhsan aktor UKM sebenarnya harus dapat memetakan situasi atau mode yang berlangsung lewat cara global akhir-akhir ini. Seperti kopi, contohnya, yang sekarang ini tengah disukai.

“Semestinya pertama yang utama yaitu mencari pasar yang luas dahulu. Di Indonesia, UKM yang dapat go international intinya beroperasi di bagian fesyen, seperti tas, busana, atau sepatu, sebab memang permohonannya juga tengah banyak. Pasar yaitu kunci khusus biar usaha dapat go international,” jelas ia.

Seusai dapatkan ceruk pasar, aktor UKM tak bisa berpuas diri. Lantas, dia harus memperluas basis pasarnya biar permohonannya bertambah lebar. Di masa tehnologi sekarang ini, memperluas pasar relatif lebih simpel dengan promo melalui social media serta manfaatkan tehnologi marketplace.

Aktor UKM harus sabar dalam pasarkan produknya, Menurutnya, lebih baik pahami profile lawan, sampai aktor UKM dapat membuat produknya berubah menjadi unik ketimbang pesaingnya. Trick itu biasa disebutkan dengan branding.

“Kesempatan ke arena internasional ini harus dikerjakan dengan non-konvensional. Untungnya, seluruhnya sekarang telah berubah menjadi serba simpel. Kalaupun dahulu ingin pasarkan produk harus turut pameran atau meminta perlindungan melalui Kedutaan Besar di beberapa negara lain,” tutur Ikhsan.

Setelah itu, aktor UKM ingat mengelola otoritas upayanya. Kalau UKM itu ingin mengekspor barangnya, izin export harus dilihat secara baik. Lantas, kalau ingin ekspansi layanan di luar negeri, semestinya aktor UKM harus sadar berkenaan aturan-aturan usaha yang berlaku di negara itu.

“Untuk kami di Akumindo (Asosiasi UMKM Indonesia), kami tetap berikan coaching (tuntunan) berkenaan otoritas sebab itu yaitu hal vital,” tambah ia.

Kalau ceruk pasar telah bertambah lebar, karena itu telah waktunya UKM dapat mencapai permodalan dari faksi external. Dia memandang instansi pembiayaan, baik bank ataupun modal ventura, akan tidak tertarik mendanai ekspansi usaha seandainya prospek penjualannya pun tidak oke.

Tentunya, banyaknya permodalan ini harus sesuai dengan kepentingan UKM itu. Contohnya, kalau UKM yang bergerak diproduksi sepatu ingin meningkatkan ekspornya, karena itu permodalannya juga harus sesuai banyaknya produksi sepatu yang ingin ditambah.

Pembiayaan yang diterima, lanjut ia, harus dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan kwalitas produknya. Butuh diingat, sewaktu UKM masuk pasar global, karena itu dia harus berkompetisi dengan produk dari negara yang lain. Cari pasar memang sukar, namun menjaga daya saing itu semestinya lebih sukar .

“Serta terus ingat jika UKM dapat tetap berkompetisi dengan perusahaan besar, jadi aktor UKM tak bisa cepat suka diri. Tetap harus ikuti kompetisi usaha, kemajuan mode, serta berani penganeragaman produk,” tutur Ikhsan.

Menurut Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Assad, mengawali usaha yang bertujuan pasar internasional semestinya terkait bermodalkan yang perlu dipupuk. Sebelum akan memutuskan untuk mengawali usaha, aktor usaha harus tahu berapakah modal yang diperlukan. Lantas, menghimpun modal harus dikerjakan jauh hari.

Paling aman, semestinya sumber modal datang dari kocek pribadi. Lantaran, aktor usaha semestinya tidak harus terbebani pelbagai persoalan kalaupun kelak usaha yang dirintisnya hancur tiba-tiba. Kalau penduduk pinjam ke bank, semestinya dia harus membayar angsuran serta bunganya, kendati aktivitas upayanya tidaklah ada .

Tetapi, menghimpun modal pribadi semestinya butuh kesabaran. Kalau memang penduduk masih kerja, karena itu pendapatan yang diterima tiap-tiap bulan dapat disisihkan untuk modal berupaya. Akan tetapi, jangan memaksa menabung dengan banyaknya besar tiap-tiap bulan cuma untuk mengawali usaha baru.

“Intinya jangan begitu ngoyo. Jadi contoh, jangan memaksa menabung modal usaha Rp5 juta per bulan kalaupun memang tidak dapat menabung sejumlah itu. Sepanjang masih kerja, taruh saja yang sedianya ditabung untuk modal usaha,” jelas Tejasari.

Tetapi, biar efek pendanaan lebih rendah, aktor usaha sebetulnya dapat jalankan upayanya sembari terus kerja seperti biasa. Jangan dahulu cepat-cepat keluar pekerjaan dalam mengawali usaha baru. Selanjutnya, menambahkan modal dapat sesuai dengan kemajuan rasio upayanya.

“Kelak usaha semestinya dapat berkembang saat kita kerja. Yang utama, kita dapat membagi prioritas saja, ada waktunya kerja serta membuat usaha,” jelas ia.

Akan tetapi, kalau aktor usaha tersudut harus pinjam uang untuk mengawali usaha, yakinkan utang itu pun minim efek. Dari semua pilihan credit, semestinya pinjam ke keluarga miliki efek lebih aman. Tidak butuh pun stress alami beban seperti dikejar-kejar debt collector.

“Namun sebenarnya, memupuk modal dalam usaha, jangan dahulu berkhayal muluk-muluk, sampai langsung pinjam banyak uang. Mulai saja bisnisnya dahulu, modalnya sesuai, serta kelak makin modal sama dengan kemajuan bisnisnya,” katanya.

About penulis77