Home / Bisnis / Kondisi Fisik Tidak Menghalangi Eko Menjadi Barista Dengan Profesional

Kondisi Fisik Tidak Menghalangi Eko Menjadi Barista Dengan Profesional

Kondisi Fisik Tidak Menghalangi Eko Menjadi Barista Dengan Profesional – Walau ke-2 tangannya diamputasi, Eko Sugeng (34), masyarakat Ngaglik, Sleman yang profesinya menjadi seseorang barista ini cukuplah gesit serta sabar melayani konsumennya. Bahkan juga, dengan kondisinya itu, Eko masih menjalankan profesinya menjadi seseorang barista dengan profesional.

Didapati di salah satunya stan acara temu inklusi #3 di Lapangan Plembutan, Playen, Gunungkidul, Eko mulai ambil satu bungkus plastik klip yang berisi biji kopi kering. Sesudah itu, dia mulai tuangkan biji kopi kering dari plastik itu ke satu cangkir yang tertumpang diatas timbangan digital.

Eko bercerita jika untuk satu cup kopi yang disajikannya ini membutuhkan biji kopi dengan berat keseluruhnya 15 gr. Selesai berat biji kopi yang dibutuhkannya di rasa cocok, Eko mulai masukkan 15 gr biji kopi kering itu ke mesin gilingan kopi.

Mengingat terbatasnya yang dimilikinya, kadang ada banyak biji kopi yang keluar dari mesin gilingan itu. Hal tersebut karena Eko baru tutup mesin gilingan kopi waktu dinyalakannya.

Di tanya tentang type minuman kopi yang sangat susah proses penyajiannya, Eko menyebutkan jika menyediakan latte mempunyai kesusahan sendiri. Menurut dia, kesusahan itu lebih pada terbatasnya alat yang dimilikinya.

“Jika yang sangat susah membuat latte, sampai saat ini saya masih tetap belajar,” tuturnya waktu didapati tempo hari, Rabu (24/10/2018) di Lapangan Plembutan, Playen, Gunungkidul.

Sebab mesti gunakan alat-alat spesial (untuk bikin latte), sebetulnya telah ada alat yang diubah agar lebih gampang tetapi berada di Yakkum,” paparnya.

Setelah itu, biji kopi kering yang tuntas digiling dia masukan ke satu kertas penyaring berupa kerucut yang tersambung dengan secangkir gelas. Dengan ke-2 lengannya, Eko terlihat trampil menggenggam satu teko kecil berisi air panas. Diluar itu, untuk kurangi perasaan panas, di bagian gagang teko dibalut Eko dengan satu serbet berwarna oranye.

Perlahan Eko mulai menyeduh kopi yang digilingnya barusan dengan mulut teko diarahkan melingkari kertas penyaring itu. Kadang-kadang Eko terlihat meringis, nyatanya dia meredam pegal di pundaknya saat menyeduh kopi itu.

Merasakan hal itu, rekanan Eko yaitu Yuli terlihat dengan luweh memijit bahu Eko sambil tersenyum. Sesudah proses penyeduhan tuntas, Yuli yang seseorang disabilitas ini langsung ambil secangkir kopi serta menyajikannya pada customer.

Ditambahkan Eko, Yuli adalah temannya waktu ikuti kursus kopi yang diselenggarakan Asian Foundation. Diluar itu, sebab Yuli ikut mempunyai ketrampilan menyeduh kopi, dia kadang share pekerjaan dengan temannya itu.

About admin