Home / Berita Umum / Jika Letih Menyetir Saat Mudik Lebih Baik Rehat Dulu

Jika Letih Menyetir Saat Mudik Lebih Baik Rehat Dulu

Jika Letih Menyetir Saat Mudik Lebih Baik Rehat Dulu – Pemudik harus mengerti badan tidak dapat diminta mengemudi sepanjang hari, ada masanya lemas yang berbuntut kantuk ada serta mengganggu perjalanan. Tidak selama-lamanya memforsir tenaga memberikan keuntungan, pemudik sebijaknya tahu badan diperlukan istirahat periodik.

Musuh paling besar kala kantuk ada adalah pengemudi kehilangan konsentrasi. Hal demikian dapat berbuntut kekurangan ‘pikiran jernih’ serta menyusutnya tanggapan pada keadaan seputar yang miliki potensi mengundang bahaya.

Butuh diingat sopir ialah pemimpin pengambil ketentuan di perjalanan yang akan tentukan unsur keselamatan berkendara buat tiap-tiap penumpang.

Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana menuturkan kalau ikuti jam biologis, badan rata-rata akan alami keletihan pada kala tersendiri, adalah jam 13.00, 15.00, serta 18.00.

Pada kala itu, menurut Sony, pengemudi akan rasakan lemas serta mengantuk hingga butuh istirahat.

“Kalaupun turuti jam biologisnya manusia, akan drop jam begitu. Karena itu harus istirahat pada jam-jam itu,” kata Sony kala dihubungi lewat telephone, Sabtu (25/5).

Atas faktor keselamatan, Sony menuturkan seharusnya sopir menepi atau ketujuan tempat peristirahatan. Mencari tempat yang nyaman untuk renggangkan tubuh atau mengerjakan olahraga mudah supaya peredaran darah pada badan lancar.

Janganlah Diminta, Simak Kala Tidur Waktu Beberapa ratus kendaraan pemudik mengantri masuk kapal di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, Minggu (10/6).
Terlampau Lama Istirahat

Istirahat butuh, akan tetapi menurut Sony janganlah kelamaan. Ia memberi saran waktu istirahat janganlah lebih dari 30 menit.

“Kalaupun istirahat lebih dari 30 menit feel mengemudi tentu akan hilang. Sebab itu umpama lebih dari 30 menit, mending sopir itu tidur benaran supaya dapat kekuatan yang lebih baik. Satu jam begitu tidur agar bugar kembali,” kata Sony.

Dia menuturkan mengemudi kala puasa buat seorang tidak punyai waktu masksimal. Ia mengandaikan, pada keadaan normal seorang dapat mengemudi sepanjang empat jam ‘non stop’ dan kala puasa harus dikurangi setengahnya.

“Kalaupun puasa gini ya mengemudi maksimum dua jam, selalu istirahat. Namun ya semua memang bergantung keadaan badan masih-masing,” kata ia.

Sony mengimbuhkan sopir harus siaga kala terlampau memforsir tenaganya buat nyetir. Dia katakan lemas terlalu berlebih bisa membuat ‘microsleep’, sampai sakit kepala.

“Bahkan juga hingga sampai ada yang sakit kepala. Lantaran memaksa kegiatan dimana ia harusnya istirahat,” kata Sony.

About penulis77